Ibnuharun


GORESAN-KU UNTUK GARUDA
Desember 30, 2010, 4:39 am
Filed under: Uncategorized

Goresan-ku Untuk Garuda

Hermanto Harun

Seperti tak sadar, euforia bola menggetarkan naluri kebangsaan yang mungkin selama ini nyaris sirna. Sorak sorai kemenangan menghibur sudut sesak kegelisahan seketika. Lagu Garuda menggema mengaburkan penat, letih dan putus asa. Gelora Bung Karno membahana oleh merahnya luatan atribut bangsa dengan simbol Negara di dada.

Garuda! Meskipun saat ini kau belum mengalungkan juara, tapi tegap lehermu masih menjadi punggah optimisme generasi muda. Walaupun kau sempat terhunyuk di kandang di negeri tetangga, tapi tatapan mata mu masih tetap bermakna sejuta asa. Engas nafas mu saat kekelahan masih menyimpan semangat yang menyala. Kucur keringat yang membasahi rupamu, selalu sealir bersama lantunan bait-bait doa dari anak pertiwi sepanjang masa.

Garuda! Bentangan sayap mu yang tak pernah kuncup itu adalah mimpi ribuan pengemis, bahwa negeri ini masih ada. Duri-duri ekormu seolah senjata penggawa rakyat jelata yang siap membela dan berkorban untukmu dimana saja. Cakar kakimu dengan kukunya gagah itu, seakan sedang menakutkan orang, kelompok dan bahkan negara yang menginginkan kau terhina.

Garuda! Walau kau kadang capai terbang, karena ulah penunggangmu yang nista. Membebanimu dengan perilaku picik, dan menunutun mu dengan politik citra. Membuntal kakimu dengan akar retorika walau harus membunuh rakyatnya yang papa. Para penunggangmu bergelimang harta, berkecamuk merebut kursi istana dan kadang bermesra dengan wanita juwita.

Sementara, mereka yang berkorban untuk mu, rela mati dalam antri tiket untuk menyaksikan lagamu, dan berswadaya membentangkan spanduk wajahmu, hanyalah mangsa. Penunggangmu tidur beralas kasur, sementara penyokongmu berbalut lumpur. Penunggangmu berkenderaan mewah, sementara penyokongmu berjalan dengan tapak lelah. Penunggangmu menyantap makanan lezat,
sementara penyokongmu berebut daging kurban hingga sekarat. Penunggangmu mempunyai rumah bertingkat, sementara penyokongmu menghuni ramah seperti lahat.

Tapi Garuda! Gemuruh nyanyian namamu menyimpan makna, bahwa anak negerimu masih tetap mempunyai cinta. Lirik syairmu seperti semilir air yang masih mengalir menuju telaga naluri rakyatmu yang jelata. Bahkan, suara lagu mu masih mampu mengalirkan syahdu melinangkan air mata. Warna kostum spportermu yang merah, melambangkan nadi dan darah, yang pantang menyerah, maskipun dalam keadaan kalah.

Garuda! Tetap lah berlaga dengan penuh wibawa. Kau menang, walaupun belum juara. penggawamu tetap akan mengabdi, sampai ke titik nadir harga diri. Dari Markus sampai Nasuha, Irfan, Ridwan, Bambang, Okto, Ongki, Arif, Gonzaless, Bustomy sampai Firman Utina. Kami yakin kalian Bisa.

Garuda! Jangan hentikan langkahmu walau setapak, karena kipas sayapmu masih pantas mengepak, selama angin masih berhembus menghalau ombak. Salam cinta dan banggaku kepada Garuda yang pantang di gertak. Wallahu’alam.

Mahasiswa PhD, Univ Kebangsaan Malaysia.
Kontemplasi di Hentian Kajang, 44-2b, Kajang Selangor. 30-12-2010.



Merahkan Stadion Bukit Jalil
Desember 22, 2010, 5:34 pm
Filed under: Uncategorized

Merahkan Stadion Bukil Jalil

Hermanto Harun

Nampaknya perhelatan laga final sepak bola AFF Suzuki 2010 taggal 26/12/2010 akan berjelan seru. Pertandingan final antara Tim Garuda Indonesia melawan Harimau Malaya Malaysia dalam pertandingan leg pertama di stadion Bukit Jalil akan sedikit menguras emosi. Soalnya, pertandingan ini tidak hanya persoalan laga bola di lapangan hijau, namun juga menyentuh sentimen kebangsaan dua negara serumpun yang belakangan ini sering berseteru. Laga bola terasa mewakili deretan emosionalitas perseteruan kedua negara. Bola seolah menjadi representasi dari persinggungan politik, ekonomi, dan budaya dari kedua rumpun bangsa.

Bagi masyarkat Indonesia di Malaysia, final Ina vs Mly ini seolah injeksi nasionalisme baru. Apalagi dengan kepercayaan diri Timnas yang berhasil menaklukkan Malaysia 5-1 dalam pertandingan semifinal tempo hari di Gelora Bung Karno Jakarta. Pokoknya kita merahkan stadion Bukit Jalil, kita Senayan-kan Bukit Jalil, komentar para mahasiswa Indonesia dari Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM).

Ketika Tim Garuda bertarung melawan skuad Azkal Filipina, para mahasiswa UKM dan tenaga kerja berjibun ‘Nobar’ di Restoran Shaker dan Singgalang. Dua kedai makan ini memang sering memberi fasilitas “Nobar”, karena pelanggan mereka umumnya para Mahasiswa Indonesia di UKM dan masyarakat TKI di sekitar Hentian Kajang, Malaysia. Semoga Tim Garuda Indonesia sampai ke final, sehingga bisa menghajar tim Malaysia. Begitu umumnya harapan besar mereka.

Gelegar kemenangan Timnas hingga sampai ke puncak laga final melawan Malaysia, sepertinya mensupport getaran nasionalitas anak bangsa di negeri jiran. Seolah derajat harga diri menguat, dan semangat kebangsaanpun seakan melebur dalam tendangan Gonzaless. Rasa optimisme anak bangsa seakan menyatu dengan senyuman Okto di lapangan hijau. bersinergi dengan semangat Nasuha, Bustomi dan Firman Utina, juga tetap bersinergi dengan kearifan Bambang Pamungkas. Walaupun, dipihak Malaysia tetap saja menyela “Ikat sayap Indonesia di Bukit Jalil, kata K Rajagobal, juru latih Tim Malaysia (Utusan online22/12/2010).

Dalam perhelatan final nanti, Pihak Kedutaan Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur menghimbau kepada masyarakat Indonesia di Malaysia, khususnya yang berada di Kuala Lumpur untuk menyaksikan laga final ini. Bahkan, semua Kampus Malaysia yang terdapat Mahasiswa Indonesia, mendapat jatah 1 bus gratis untuk menuju Stadion Bukit Jalil. Wlau tidak mencukupi, tapi demi semangat kebangsaan, mereka tetap akan pergi, bahkan beberapa hari ini, pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) tambak sibuk mengurus rekan-rekan mahasiswa yang berkeinginan menyaksikan pertndingan laga nanti. Mengingat jatah kursi bagi fans Garuda hanya 15.000 saja.

Antusias masyarakat Malaysia-pun tak kalah gentar. Mereka akan mengirim tujuh puluh ribu fans Tim Harimau Malaya. Bahkan pertandingan final ini akan disiarkan lansung di dua TV Malaysia, TV1 dan TV 2. Karena pertandingan ini mendapat perhatian warga negaraMalaysia dan bukan perlawanan biasa, ungkap Menkominfo Malaysia, Datuk Rais Yatim, di Istana Budaya (IB) Kuala Lumpur.

Tak kurang dari itu, Berita Harian Malaysia juga menyuguhkan judul “Ayo Sikat Indonesia”. ucap Asra, seorang pemain bawah Tim Harimau Malaya. Nampaknya mereka sudah geram dan tak sabar lagi untuk menaklukkan Tim Garuda di Bukit Jalil. Sikap percaya diri Tim Malaysia ini menguat, ketika mereka mampu memulangkan Timnas Vietnam ke Hanoi. Didikan Rajagobal perlu melakukan permainan seperti menghadapi Vietnam, ketika berhadapan dengan Tim Garuda Indonesia. Ujar K Sambagamaran, mantan ketua Tim Malaysia tahun 1996 lalu.

Laga dua tim nasional negara serumpun ini, jelas semakin menghangat dan seru, karena gelinding bola di stadion akan mengarah kepada harga diri anak bangsa. Apatah lagi bagi Indonesia, kemenangan di laga final melawan Malaysia ini setidaknya bisa mengobati kekesalan yang selama ini mengiang dalam rasa takut dan kerendahan status sosial. Rasa kerendahan itu nanti semakin sirna dengan kemenagan Timnas dan membahananya lagu Garuda di Dadaku di stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur. Tapi, namanya juga pertandingan bola, sesuai dengan bentuk bola sendiri yang mengelinding bulat, susah ditebak kemana arah gol nya. Yang penting sportifitas tetap terjaga. Dimana bumi dipijak distu langit djunjung, kata pepatah melayu. Hidup Garuda.

Hentian Kajang, 44-2b, 22-12-2010, jam 1, 25 WM



Tugas Akhir Studi al-Quran AS & EI-b
Desember 21, 2010, 1:55 pm
Filed under: Uncategorized

Tugas Akhir Semester

Mata Kuliah : Studi al-Quran
Smstr : 1 (Satu)
Tahun Akademik : 2010-2011
Jurusan : AS & EI b
Dosen : H.Hermanto Harun, Lc, MHi

1. Sejarah ulum al-Quran
Definisi ulum al-Quran, perkembangan, dan kitab apa saja yang mengupas Ulum al-Quran

2. Wahyu
Definisi, pembagian, cara wahyu diturunkan, dan jelaskan dalil yang berhubungan dengan judul tersebut.

3. Al-Quran,
Definisi, nama, sifat, dan tujuan diturunkan al-Quran (jelaskan dengan dalil yg berkaitan dg bahasan.

4. I’Jaz al-Quran
Definisi, macam-macamnya, dan perbedaan antara mujizat Muhammad dgn Nabi lain

5. Ayat
Definisi Ayat, ayat yang turun pertama, ayat yang turun terakhir, jumlah ayat, jumlah surat

6. Ayat Makkiyah
Definisi, jumlah ayat Makkiyah, Karakteristik Makkiyah.

7. Ayat Madaniyah
Definisi, Jumlah ayat Madaniyah, Karakteristik Madaniyah

8. Ayat muhkamat dan Mutasybihat
Definisi Muhkamat, Mutsyabihat, contoh keduanya

9. Pengumpulan al-Quran
Sejarah awal, gagasan dan dinamika serta tujuan

10. Rasm Utsmani (mushaf Utsman)
Sejarah, dan pandangan ulama tentang mushaf utsmani

11. Nasikh dan Mansukh
Definisi, pembagian, pendapat tentang nasikh mansukh, hikmah dan contoh

12. Tafsir al-Quran
Definisi, pembagian, dan perbedaan tafsir dan takwil

Penulisan makalah sesuai ketentuan panduan penulisan Fak Syariah IAIN STS. Minimal 4 buku rujukan, Pembagian judul diserahkan kepada kosma sesuai jumlah mashsiswa. Makalah dikumpulkan sebelum pelaksanaan ujian semester ini. Selamat bekerja dan selalu berdoa.



Mengais Pengetahuan di Malaysia
Desember 17, 2010, 3:32 pm
Filed under: Uncategorized

Mengais

This slideshow requires JavaScript.

Pengetahuan di Negeri Jiran
(Malaysia)

Agaknya sedikit dari orang Indonesia atau Jambi khususnya, yang merasa “ngeh’ untuk melanjutkan studi di Malaysia. Soalnya, seringkali terdengar celetukan sinis mempertanyakan “kuliah kok ke Malaysia”? Begitulah sesumbar ketus yang banyak terdengar. Namun pilihan studi ke Malaysia agaknya punya ‘rasa’ tersendiri, yang mungkin berbeda dari apa yang dirasakan di dalam negeri.
Namun menurut Abdullah Firdaus, Mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UKM, yang juga berstautus sebagai dosen IAIN STS Jambi, “kuliah di Malaysia mendapat banyak hal, seperti fasilitas pendidikan yang sangat bagus, mulai dari infrastruktur bangunan sampai kerersediaan bahan bacaan, baik buku maupun journal Internasional tersedia di perpustakaan” ungkapnya. Pokoknya kuliah di berbagai kampus Malaysia mendapat banyak nilai tambah, seperti networking yang luas, mengingat banyak mahasiswa asing dari berbagai Negara juga kuliah di Malaysia, seperti pengakuan Samsu, seorang Dosen IAIN Jambi dan kandidat Doktor Pendidikan UKM yang hampir rampung desertasinya.

Ada banyak pengalaman yang menarik untuk diikuti dalam menapak pengetahuan di Malaysia. Para mahasiswa yang S1 (degree), mereka diharuskan untuk tinggal di college (asrama) yang telah disediakan di dalam kampus. Namun untuk mahasiswa Pascasarjana (S2 & S3), boleh tinggal di asrama atau ngontrak aprtemen di sekitar kampus. Untuk mahasiswa pascasarjana asal Jambi misalnya, mereka ngontrak di sekitar Hentian Kajang dan Kajang Utama. Mengingat di sketar ini ada halte bus kampus dan transportasi umum yang mudah dijangkau. Ngontrak di sekitar ini memudahkan urusan, apalagi bagi saya yang sedang ngejar target selesai semester ini, ungkap Bahren Nurdin, seorang mahasiswa asal Jambi yang sedang berjibaku dengan Tesis Masternya di Jurusan Post Kolonial, Sastra Insggris.

Apasih keunggulan Malaysia dibanding Indonesia dibidang pendidikan? pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang yang belum pernah berkunjung dan mengetahui pendidikan Malaysia. Namun bagi mahasiswa asal arab, seperti Libya, Yaman, Iraq dan Yordania, mereka berargumen, masuknya beberapa Perguruan Tinggi Malaysia di urutan 200-an peringkat internasional. Sebut misalnya, National University of Malaysia (UKM), University of Malaya (UM), dan Sains University of Malaysia (USM) bahkan mengungguli beberapa Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Dengan demikian, uangkap Waled, masahsiswa asal Yaman, tak heran jika puluhan ribu mahasiswa asing setiap tahun mendulang pengetahuan di berbagai Perguruan Tinggi di Malaysia.

Karena itu, mahasiswa asing seperti dari Negara-negara Arab; Yaman, Libya, Sudan, Yordania, Suria, Iraq, bahkan Saudi Arabia dan Mesir menjadikan Malaysia sebagai pilihan alternative tempat menimba pengalaman dan pengetahuan. Walaupun mereka umumnya menggali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sains dan teknologi. Juga demikian dengan mahasiswa dari Negara lain, seperti Iran, India, Uzbekistan dan Negara-negara Afrika seolah terpesona dengan fasilitas dan budaya akademik di banyak kampus Malaysia.

Kilau pendidikan Perguruan Tinggi di Malaysia yang memancar dunia global tadi, akhirnya juga memikat tenaga pendidik dari berbagai Perguruan Tinggi dalam negeri untuk menimpa pengetetahuan di negeri Jiran. Sepengetahuan penulis, hampir semua PTN Indonesia memiliki dosen “duta” yang belajar ke beberapa Perguruan Tinggi Malaysia. Mulai dari Syahkkuala Aceh, USU, Unand, UNRI, UNJA, UNSRI, UNILA, UNHAS bahkan UI, ITB dan UGM. Belum lagi dosen dari UIN, IAIN dan Universitas Swasta di tanah air.

Untuk duta Jambi, ada beberapa mahasiswa yang sedang S1 dan S2 di berbagai College dan Universitas. Namun umumnya, Mahasiswa Jambi merupakan dosen dari IAIN STS, UNJA dan UNBARI yang sedang studi program Ph.D (Doktoral) di National University of Malaysia (UKM), Putra University of Malaysia (UPM), University of Malaya (UM) dan International Islamic University of Malaysia (IIUM).

Ada banyak ragam disiplin ilmu yang dituai oleh putra daerah Jambi di Perguruan Tinggi Malaysia, seperti Ruli A Roni, mahasiswa Program Doktor UM, Amsori Moh Das yang mengambil Doktor bidang Tehnik, Sofia Amin, kandidat Doktor ekonomi dan Izzat M Daud di program Doktor, kajian Sastra Arab. Ada banyak lagi kawan-kawan yang berkecimpung dibidang keilmuan selain tadi, seperti Pendidikan, Sosial & Politik, Hukum dan Hubungan Internasional.

Pada umumnya, mahasiswa Jambi di Malaysia sibuk dengan urusan kuliah dan pendidikan masing-masing. Akan tetapi juga sering berkumpul dan bercengkrama di ruang perpustakaan kampus, bagi yang kebetulan sama kampusnya. Dan, kadang juga berkumpul di apartemen salah seorang mahasiswa Jambi dengan wadah Ikatan Mahasiswa Jambi Malaysia (IMJM). Wadah ini semula menjadi ruang untuk berdiskusi dan berbagi, baik yang kaitan dengan persoalan studi maupun sharing tentang kondisi daerah Jambi, terutama sebagai responsibilitas terhadap berbagai peristiwa politik dan sosial di ranah kelahiran.

Selain cengkrama tentang berbagai persoalan yang menyangkut studi dan organisasi, diskusi kecil juga sering terjadi ketika diantara sahabat Jambi yang sedang menghadapi “krisis keuangan” dan persoalan pribadi lainnnya. Karena, tidak semua mahasiswa Jambi di Malaysia yang memiliki donasi dana yang berkecukupan, bahkan banyak diantara mereka yang kuliah sambil mengais rejeki untuk kelanjutan studi. Bekerja di hotel, guru privat, pekerja restoran dan mengajar di kampus menjadi kerja sampingan yang dilakoni oleh “kanti-kanti” Jambi, demi mewujudkan impian dan cita masa depan.

Kadang sambil ngumpul, kita masak bersama dengan lauk yang khas Jambi, seprti tempoyak, sambal jengkol dan rebus pucuk singkong. Dalam suasana makan yang renyak dan lahap tersebut, kita semua sering bergumam, mengapa posisi Negara kita sangat kontras dengan kondisi mahasiswa tempatan Malaysia. Mereka mendapat subdisi, beasiswa dan tunjangan sepenuhnya dari Negara, sehinnga kualitas dan keseriusan mereka dalam menempa pengetahuan sesuai dengan cita dan obsesi bangsanya. Selain itu juga, Negara Malaysia melakukan demo identitas dengan basis Melayu dengan berciri khas budaya, adat dan agama.

Lebih dari itu, Malaysia tidak ingin lagi terjebak dalam dikotomisasi pengetahuan, antara pendidikan Islam dan sains Barat. Malaysai tidak lagi selalu berwacana, namun sudah meralisasikan teori Ismail Raji al-Faruqi dan Naqieb al-Attas. Nah, kalau kata? Ya baru sebatas lahap makan tempoyak, dan yang penting perut kenyang! Seloroh kawan-kawan sambil menikmati kelahapan makan bersama.

Kontributor JE Malaysia:
Hermanto Harun. Mahasiswa Ph.D, National University of Malaysia, asal Jambi.



Islam Versus Teroris
Desember 17, 2010, 3:06 pm
Filed under: Uncategorized

Islam Versus Terorisme

Hermanto Harun
(mahasiswa PhD UK Malaysia)

Dalam sebuah buku yang berjudul “The Great Theft: Wrestling Islam From The Extremists” Khaled Abou el-Fadl, seorang Profesor di UCLA Amerika Serikat menulis; memilih terminologi yang tepat untuk menamai sehimpunan keyakinan dan pendirian senantiasa sulit, label-label tertentu tidak hanya mendeskripsikan, label-label juga menghakimi. Tulisan Khaled ini, agaknya singkron dengan konteks fluktuasi hubungan sosial keagamaan di Indonesia terakhir ini, dimana kisruh tentang terorisme seakan tidak pernah berujung.

Di negeri yang mayoritas muslim ini, label terorisme seolah menjadi sisi mata uang dengan penganut agama Islam. Label teroris seakan dengan sendirinya sepadan dengan identitas seorang muslim. Sehingga, terma terorisme terperangkap dalam terminologi label sehimpunan keyakinan dan pendirian yang selanjutnya dideskripsikan dan kemudian dihakimi sebagai dogma Islam.

Labelitas teroris yang alias muslim, seakan semakin menguatkan persepsi, ketika pelaku yang disangkakan teroris tersebut menganut dan berakidah Islam. Ditambah lagi dengan berbagai idiom dan simbol formal pelaku teror tersebut yang berkonotasi seorang muslim yang taat, rajin solat dan mengajar pengajian di masyarakat. Ujungnya, bisa dipastikan, mengarah pada justifikasi, bahwa memang, terorisme selalu bertalian dengan faham dogmatif keberagamaan Islam. Lantas, apakah benar asumsi prejudis seperti demikian terhadap Islam?

Stigma terorisme

Semenjak peristiwa Sabtu kelabu, 11 September 2001 yang menghancurkan WTC dan Pentagon, gedung simbol kedigdayaan Amerika Serikat itu, isu terorisme terus mengalir ke permukaan wacana. Ruang publik seakan tak hentinya dirasuki hidangan isu terorisme yang sampai saat ini belum jelas identitasnya. Sepertinya, wacana terorisme senantiasa menjadi ‘headline’ setiap berita di pentas global. Seolah, terorisme menjadi konco dinamika dunia yang tak boleh terlewatkan dalam pemberitaan.

Adalah Rif’at Said, yang menulis artikel berjudul “al-Irhab fi Alam al-Aulamah” (teroris dalam dunia global) di harian al-Ahram Mesir (20/4/2007), dalam tulisan itu mengungkapkan, bahwa, ada sebuah perenungan dalam kerangka peta zaman baru yang disebut globalisasi. Semua ini terkadang menyuguhkan ragam penafsiran yang layak untuk diperhatikan, yaitu adanya dua kutub dunia yang berbeda, antara dunia maju dan dunia yang selalu identik dengan keterbelakangan. Disini difahami, golongan pertama adalah keberhasilan, kemajuan dan harus dilindungi, sedangkan golongan kedua adalah kemunduran, keterbelakangan yang selanjutnya selalu diposisikan sebagai ancaman.

Terorisme menjadi alat dan opini jitu untuk dijadikan kambing hitam sebagai pencitraan buruk terhadap golongan kedua yang `konon’ masih menjadikan agama sebagai nafas kehidupan. Sehingga, golongan pertama yang berbaju Barat seakan menjadi pejuang dan pahlawan terhadap pemberangusan terorisme. Walaupun sulit untuk menutup topeng, bahwa, iklan besar-besaran tentang terorisme yang disponsori oleh Barat memiliki hiden agenda, yaitu untuk kepentingan kapitalisme, dan bahkan tidak mustahil demi untuk agama (crused). Dengan demikian, yang tampak sekarang, Islam selalu menjadi pihak tertuduh yang ditempelkan dengan prilaku teroris. Lebih dari itu, norma Islam bahkan diidentifikasi sebagai ajaran yang memang akrab dan bahkan memang mengajarkan tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut.

Bagi penganut Islam, tuduhan dan persepsi seperti di atas jelas ditolak, karena memang sangat kontradiktif dengan nilai humanisme dogma Islam. Namun fakta waqi’nya, para pelaku yang dianggap teroris, sebagiannya berstatus sebagai muslim. Lantas, benarkah asumsi bahwa tindakan terorisme bermotif agama? dan apa sebenarnya “binatang” terorisme itu?.

Definisi terorisme

Mendefinisikan terma terorisme sacara harfiyah tidaklah begitu sulit. Namun, menerjemahkannya secara kully (konprehensif) dengan konkteks kekinian terasa amat akut. Mengingat, terma terorisme sudah dirasuki, ter-sibghah (diwarnai) oleh pelbagai kepentingan, baik ideologi maupun politik. Sehingga, ketika harus menuding seseorang dengan teroris, terasa sulit untuk meyakini kebenaran relevansinya antara stigma dan pelakunya. Hal ini, karena terma terorisme telah memasuki wilayah klaim masing-masing dengan beragam tafsiran, selaras agenda yang berkepentingan. Disinilah tepatnya ungkapan Fahmi Huwaidi dalam bukunya al-Maqalat al-Mahzurah (kumpulan artikel terlarang) yang menjelaskan, bahwa dekade terakhir ini, perbuatan baik dituding sebagai sebuah kejahatan, putih menjadi hitam, dan mujahid dianggap teroris.

Namun, di tengah subyektifitas dan kerancuan makna terorisme, tidak lantas istilah ini terisolir dan luput dari pengertian akademiknya. Menurut Vidari, kata terorisme merupakan istilah asing yang digunakan untuk menyebut seseorang dan atau kelompok yang melakukan tindakan kekerasan dan teror di tengah-tengah masyarakat. (Republika, 23/6/2007). Jhon M Echols menyebut arti teroris sebagai penggetaran atau perusuh atau tindakan kekerasan yang disertai dengan sadisme yang dimaksudkan untuk menakut¬-nakuti lawan. Akan tetapi dalam kamus adikuasa, menurut Noam Avram Chomsky, terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan oleh negara-negara atau kelompok¬-kelompok kecil. Amir Thohiri dalam bukunya al-lrhab al-Muqaddas (terorisme suci) menulis, semua tindakan kekerasan yang diluar undang-undang perang–seperti yang telah disepakati oleh seluruh negara di dunia–dengan tujuan memberi rasa tidak aman demi tercapainya tujuan politik.

Pengertian di atas, merupakan persepsi personal ilmuwan dalam mendefinisikan makna terorisme. Pada level kenegaraan, Mesir misalnya, pernah diadakan forum dialog antara ketua Asosiasi Keamanan Nasional Arab dengan ketua Dewan Syura (MPR) Mesir pada tanggal 20 Maret 1993 yang mengangkat tema “Menghadang Terorisme”. Dalam dialog ini menelurkan pengertian terorisme, yaitu, segala praktek kekerasan atau ancaman dengan tujuan politis untuk mempengaruhi prestise negara atau untuk menguasai keamanan dengan obsesi menggoyang kepemimpinan nasional, yang bisa dilakukan dengan pelbagai cara, seperti menghancurkan perekonomian agar tercipta keresahan yang berujung kerusuhan. Juga, sebuah obsesi untuk merubah perundang-undangan yang telah ditetapkan oleh negara dan telah diterima oleh masyarakat.

Jika berangkat dari pengertian terorisme secara leksikal seperti di atas, maka mafhum sederhana dapat disimpulkan bahwa terorisme itu selalu ada dalam realitas sejarah kehidupan manusia. Bahkan, ada semenjak manusia itu membentuk komunitas sosial seperti tragedi pada bani Adam, Habil dan Qabil. Namun pengertian terorisme dalam pemikiran modern mengkristal semenjak revolusi Prancis pada tanggal 10 Agustus 1792, ketika pihak oposisi revolusi melakukan pelbagai tindakan kekerasan dalam menantang revolusi tersebut.

Dalam perkembangannya, gerakan terorisme memang sangat sering dilatarbelakangi oleh kepentingan politik. Hal ini terlihat dari beberapa klasifikasi yang dirangkumkan oleh para ilmuwan. Setidaknya ada tiga. Pertama, terorisme kriminal seperti gerakan perompakan dan penodongan. Kedua, terorisme hegemonic seperti yang banyak dilakukan oleh banyak penguasa terhadap lawan politiknya dalam melanggengkan kekuasaan. Ketiga, terorisme pemikiran seperti pemaksaan opini dan pemahaman terhadap kelompok lain.

Apapun depenisi terorisme, yang jelas, selama entitas teroris tersebut selalu berkolaborasi dengan kekerasan, melakukan tindakan terror, apalagi membunuh manusia tanpa dosa, maka, semua it sudah pasti bertentangan dengan nilai dan dogma Islam. Karena, dari semenjak diserukannya, Islam selalu mengedepankan aspek kemanusiaan, bahkan aspek kemanusiaan menjadi bahasan sentral dalam kitab suci al-Qur’an yang menjadi pedoman dan rujukan keimanan setiap muslim.

Jika demikian, maka anggapan dan tuduhan terhadap Islam sebagai biang ideologi terorisme jelas merupakan fitnah. Sebab, menurut Abou Fadl, Islam yang tidak humanistik adalah Islam yang keliru, karena Islam adalah pesan kasih sayang, rahmat, cinta dan keindahan. Jadi, yang sebenarnya teroris itu siapa? Yang pasti, teroris adalah mereka yang selalu menebar fitnah terorisme terhadap Islam. Wallahu’alam

Tun Sri Lanang Library UK Malaysia




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.