Filed under: Uncategorized
Mengais
This slideshow requires JavaScript.
Pengetahuan di Negeri Jiran(Malaysia)
Agaknya sedikit dari orang Indonesia atau Jambi khususnya, yang merasa “ngeh’ untuk melanjutkan studi di Malaysia. Soalnya, seringkali terdengar celetukan sinis mempertanyakan “kuliah kok ke Malaysia”? Begitulah sesumbar ketus yang banyak terdengar. Namun pilihan studi ke Malaysia agaknya punya ‘rasa’ tersendiri, yang mungkin berbeda dari apa yang dirasakan di dalam negeri.
Namun menurut Abdullah Firdaus, Mahasiswa Program Doktor Filsafat Islam UKM, yang juga berstautus sebagai dosen IAIN STS Jambi, “kuliah di Malaysia mendapat banyak hal, seperti fasilitas pendidikan yang sangat bagus, mulai dari infrastruktur bangunan sampai kerersediaan bahan bacaan, baik buku maupun journal Internasional tersedia di perpustakaan” ungkapnya. Pokoknya kuliah di berbagai kampus Malaysia mendapat banyak nilai tambah, seperti networking yang luas, mengingat banyak mahasiswa asing dari berbagai Negara juga kuliah di Malaysia, seperti pengakuan Samsu, seorang Dosen IAIN Jambi dan kandidat Doktor Pendidikan UKM yang hampir rampung desertasinya.
Ada banyak pengalaman yang menarik untuk diikuti dalam menapak pengetahuan di Malaysia. Para mahasiswa yang S1 (degree), mereka diharuskan untuk tinggal di college (asrama) yang telah disediakan di dalam kampus. Namun untuk mahasiswa Pascasarjana (S2 & S3), boleh tinggal di asrama atau ngontrak aprtemen di sekitar kampus. Untuk mahasiswa pascasarjana asal Jambi misalnya, mereka ngontrak di sekitar Hentian Kajang dan Kajang Utama. Mengingat di sketar ini ada halte bus kampus dan transportasi umum yang mudah dijangkau. Ngontrak di sekitar ini memudahkan urusan, apalagi bagi saya yang sedang ngejar target selesai semester ini, ungkap Bahren Nurdin, seorang mahasiswa asal Jambi yang sedang berjibaku dengan Tesis Masternya di Jurusan Post Kolonial, Sastra Insggris.
Apasih keunggulan Malaysia dibanding Indonesia dibidang pendidikan? pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang yang belum pernah berkunjung dan mengetahui pendidikan Malaysia. Namun bagi mahasiswa asal arab, seperti Libya, Yaman, Iraq dan Yordania, mereka berargumen, masuknya beberapa Perguruan Tinggi Malaysia di urutan 200-an peringkat internasional. Sebut misalnya, National University of Malaysia (UKM), University of Malaya (UM), dan Sains University of Malaysia (USM) bahkan mengungguli beberapa Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia. Dengan demikian, uangkap Waled, masahsiswa asal Yaman, tak heran jika puluhan ribu mahasiswa asing setiap tahun mendulang pengetahuan di berbagai Perguruan Tinggi di Malaysia.
Karena itu, mahasiswa asing seperti dari Negara-negara Arab; Yaman, Libya, Sudan, Yordania, Suria, Iraq, bahkan Saudi Arabia dan Mesir menjadikan Malaysia sebagai pilihan alternative tempat menimba pengalaman dan pengetahuan. Walaupun mereka umumnya menggali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sains dan teknologi. Juga demikian dengan mahasiswa dari Negara lain, seperti Iran, India, Uzbekistan dan Negara-negara Afrika seolah terpesona dengan fasilitas dan budaya akademik di banyak kampus Malaysia.
Kilau pendidikan Perguruan Tinggi di Malaysia yang memancar dunia global tadi, akhirnya juga memikat tenaga pendidik dari berbagai Perguruan Tinggi dalam negeri untuk menimpa pengetetahuan di negeri Jiran. Sepengetahuan penulis, hampir semua PTN Indonesia memiliki dosen “duta” yang belajar ke beberapa Perguruan Tinggi Malaysia. Mulai dari Syahkkuala Aceh, USU, Unand, UNRI, UNJA, UNSRI, UNILA, UNHAS bahkan UI, ITB dan UGM. Belum lagi dosen dari UIN, IAIN dan Universitas Swasta di tanah air.
Untuk duta Jambi, ada beberapa mahasiswa yang sedang S1 dan S2 di berbagai College dan Universitas. Namun umumnya, Mahasiswa Jambi merupakan dosen dari IAIN STS, UNJA dan UNBARI yang sedang studi program Ph.D (Doktoral) di National University of Malaysia (UKM), Putra University of Malaysia (UPM), University of Malaya (UM) dan International Islamic University of Malaysia (IIUM).
Ada banyak ragam disiplin ilmu yang dituai oleh putra daerah Jambi di Perguruan Tinggi Malaysia, seperti Ruli A Roni, mahasiswa Program Doktor UM, Amsori Moh Das yang mengambil Doktor bidang Tehnik, Sofia Amin, kandidat Doktor ekonomi dan Izzat M Daud di program Doktor, kajian Sastra Arab. Ada banyak lagi kawan-kawan yang berkecimpung dibidang keilmuan selain tadi, seperti Pendidikan, Sosial & Politik, Hukum dan Hubungan Internasional.
Pada umumnya, mahasiswa Jambi di Malaysia sibuk dengan urusan kuliah dan pendidikan masing-masing. Akan tetapi juga sering berkumpul dan bercengkrama di ruang perpustakaan kampus, bagi yang kebetulan sama kampusnya. Dan, kadang juga berkumpul di apartemen salah seorang mahasiswa Jambi dengan wadah Ikatan Mahasiswa Jambi Malaysia (IMJM). Wadah ini semula menjadi ruang untuk berdiskusi dan berbagi, baik yang kaitan dengan persoalan studi maupun sharing tentang kondisi daerah Jambi, terutama sebagai responsibilitas terhadap berbagai peristiwa politik dan sosial di ranah kelahiran.
Selain cengkrama tentang berbagai persoalan yang menyangkut studi dan organisasi, diskusi kecil juga sering terjadi ketika diantara sahabat Jambi yang sedang menghadapi “krisis keuangan” dan persoalan pribadi lainnnya. Karena, tidak semua mahasiswa Jambi di Malaysia yang memiliki donasi dana yang berkecukupan, bahkan banyak diantara mereka yang kuliah sambil mengais rejeki untuk kelanjutan studi. Bekerja di hotel, guru privat, pekerja restoran dan mengajar di kampus menjadi kerja sampingan yang dilakoni oleh “kanti-kanti” Jambi, demi mewujudkan impian dan cita masa depan.
Kadang sambil ngumpul, kita masak bersama dengan lauk yang khas Jambi, seprti tempoyak, sambal jengkol dan rebus pucuk singkong. Dalam suasana makan yang renyak dan lahap tersebut, kita semua sering bergumam, mengapa posisi Negara kita sangat kontras dengan kondisi mahasiswa tempatan Malaysia. Mereka mendapat subdisi, beasiswa dan tunjangan sepenuhnya dari Negara, sehinnga kualitas dan keseriusan mereka dalam menempa pengetahuan sesuai dengan cita dan obsesi bangsanya. Selain itu juga, Negara Malaysia melakukan demo identitas dengan basis Melayu dengan berciri khas budaya, adat dan agama.
Lebih dari itu, Malaysia tidak ingin lagi terjebak dalam dikotomisasi pengetahuan, antara pendidikan Islam dan sains Barat. Malaysai tidak lagi selalu berwacana, namun sudah meralisasikan teori Ismail Raji al-Faruqi dan Naqieb al-Attas. Nah, kalau kata? Ya baru sebatas lahap makan tempoyak, dan yang penting perut kenyang! Seloroh kawan-kawan sambil menikmati kelahapan makan bersama.
Kontributor JE Malaysia:
Hermanto Harun. Mahasiswa Ph.D, National University of Malaysia, asal Jambi.
Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

