Ibnuharun


SAROLANGUN PASCA HBA
Maret 10, 2011, 3:50 pm
Filed under: Uncategorized

Sarolangun Pasca HBA

Hermanto Harun*

Dimamika politik Pilbub Sarolangun jelang hari “pertarungan” semakin riuh. Tensi para kontestan-pun semakin meningkat, mengingat rentang waktu yang tersedia semakin menyempit. Para petarung di arena Pilbub Sarolangun sudah tekan gas, mengejar konstituen dengan melakukan berbagai cara pendekatan yang dapat menyentuh kesadaran pilihan massa mereka. Tentu, semua kontestan sudah siapkan bekal, jurus dan kuda-kuda dengan kalkulasi yang cermat dan penuh perhitungan.

Perhelatan pesta rakyat Kabubaten Sarolangun yang akan berlansung beberapa bulan kedepan, tentu agak seidikit berbeda nuansa dengan kabupaten/kota lain dalam provinsi Jambi. Mengingat, semua petarung memiliki afiliasi dan argumentasi psikologis dan sosiologis dengan sang mantan Bupati, Hasan Basri Agus (HBA), yang sekarang sedang “manggung’ di istana gubernuran Jambi. Selain itu juga, kharisma HBA sebagai seorang tokoh adat dan mantan pejabat nomor satu di Sarolangun, diyakini akan mampu memberi pengaruh asupan suara yang signifikan terhadap kandidat yang dijagokan beliau.

Dari sini lah letak keunikan dan dinamika yang menarik untuk ‘diskusikan’ dalam ajang pesta rakyat Sarolangun. Sebab, pilihan rakyat dalam mendaulat siapa kandidat yang pantas menggantikan posisi HBA di masa mendatang, masih penuh teka-teki dan sedikit ‘misteri’. Karena, modal kekuatan sosial-kultural tiga pasangan kandidat bisa dikatakan seimbang, walaupun kekuatan politik dan finansial sudah terlihat sangat complang.

Tiga pasang kontestan yang akan berlaga dengan basis sosial yang agak berimbang tersebut terkecuali pasangan Evi Suherman dan Sardini. Pasangan ini, sejak semula terkesan ‘titipan’ dalam mewanti terjadinya calon tunggal, atau jika pertarungan hanya diikuti dua pasangan Cabub, yaitu Cek Endra-Pahrul versus Nasri Umar-Salahudin.

Ijtihad strategi politik kemunculan pasangan Evi-Sardini kemudian goyah oleh mulusnya pasangan Cabub As’ad Isma-Maryadi Syarif ke gelanggang Pemilukada. Sebab, kemunculan pasangan ini setidaknya sedikit menantang populeritas Cek Endra-Pahrul. Karena pribadi As’ad Isma dengan basis masyarakat kota Sarolangun dan berkekuatan magis NU, ditambah lagi dengan populeritas Maryadi Syarif yang penah menjadi Bupati dan Wabub Sarolangun, dan pernah menjadi ranner up ketika bertarung melawan HBA pada pemilukada Sarolangun sebelum ini. Kedua argumentasi ini menjadi amunisi yang membuat pasangan As’ad-Maryadi menjadi “pe-de” dalam bertarung melawan incumbent, CE-Pahrul.

Lantas, bagaimana kekuatan pasangan CE-Pahrul agar mampu eksis menggiring pilihan massa untuk ‘istiqamah’ mencontreng pasangan “bersama” di hari pertarungan nanti? Bagaimanapun, pasangan “bersama” memiliki nilai populis yang lebih tinggi, karena, Cek Endra pernah mendampingi HBA dengan tanpa bergolak, incumbent dan mempunyai perahu politik yang besar.

Hemat penulis, setidaknya ada beberapa penomena keriuhan Pilbub Sarolangun yang akan dilaksanakan April mendatang. Diantaranya, tiga pasangan kandidat, Cek Endra-Pahrul, As’ad Isma-Maryadi Syarif dan Nasri Umar-Salahudin, semua mengklaim sebagai penerus program HBA dan telah mendapat restu untuk maju dalam perhelatan akbar Pilbub tersebut. Klaim seperti ini bisa dimengerti, mengingat afiliasi psikologis tiga pasangan kandidat tadi dengan pribadi HBA juga tidak bisa dinafikan.

Afiliasi psikologis yang dimaksud, seperti; Cek Endra selain selalu terlihat “mesra” dengan HBA karena pernah menjadi pasangan sejoli dalam memimpin Sarolangun 2006-2010, juga sebagai ketua Timses pemenangan HBA untuk wilayah Sarolangun dalam Pilgub 2010-2015 yang lalu. Begitu juga dengan Pahrul, yang pernah memimpin beberapa SKPD Sarolangun dibawah kendali HBA. Disamping itu juga, perahu politik partai Demokrat yang dikomandokan HBA di wilayah Jambi, telah di’sumbangkan” menjadi kendaraan politik yang akan menghantarkan pasangan Cek Endra-Pahrul melanggeng ke istana Gunung Kembang Sarolangun.

Kemudian, As’ad Isma, dalam berbagai baliho dan posternya selalu terlihat mendampingkan foto HBA bersamanya. Dengan menggunakan lokomotif Gerakan Pemuda Ansor–dimana HBA juga berafiliasi ke gerbong ini–dijadikan As’ad Isma sebagai kekuatan kulutral sosiologis. Sehingga, diperkirakan akan mampu menjadi bumbu pemikat suara pendukung HBA. Selain itu, keberadaan Maryadi Syarif yang mendampingi As’ad Isma, memiliki pengagum setia dalam Pilbub Sarolangun beberapa tahun silam. Walau sedikit kecewa dengan posisi Maryadi sebagai calon wakil, pengikut setia Maryadi diperkirakan masih rela untuk “balas budi” dalam mendongkrak roda politik menuju Istana Bupati Sarolangun.

Lain lagi dengan Nasri Umar, walau maju melaui jalur independen, afiliasi psikologisnya dengan HBA juga tidak kalah magsinya. Perjuangan sebagai Timses HBA dalam Pilgub Jambi tahun lalu dengan rela dikeluarkan dari sebuah parpol, menjadi “icon” yang tidak mudah untuk sekedar dilupakan. Selain itu juga, kedekatan personal Nasri Umar yang notabene sudah bergaul lama dengan HBA, bahkan semenjak Pilbub pertama Sarolangun setelah pemekaran dari kabupaten Sarko. Ditembah lagi dengan posisi wakilnya, Salahudin yang berasal dari kelurga besar seorang tokoh dan putra terbaik Batang Asai Sarolangun, Prof Khatib Quzwaen. Semua itu dijangka masih paten untuk dijadikan harga jual dalam jaja komunikasi politik ketika mempengaruhi pemilih.

Dalam Pilbub Sarolangun periode 2011-2016 ini, hemat penulis, selain dari beberapa aspek pendukung kemenangan, posisi sikap politik HBA terbilang sangat strategis. Hal ini tidak semata karena 80% lebih suara masyarakat Sarolangun mendukung beliau ketika ajang Pilbub lalu, tapi posisi HBA sebagai Gubernur, putra daerah dan tuo tengganai Sarolangun sekaligus. Posisi ini setidaknya bisa menghisap arah tiupan suara masyarakat Sarolangun, terutama di wilayah “netral”, yang merasa tidak terwakilkan tokoh mereka di ajang pesta rakyat nanti. Dari itu, keputusan sikap politik HBA, tidak cukup hanya sekedar dilambangkan dengan arah dukungan sikap politik partai Demokrat, tapi, keberadaan HBA dalam suatu acara kampanye, apatah lagi berorasi dengan argumen dukungannya, jelas sangat diperlukan.

Posisi dan sikap politik HBA seperti ini yang sedang ditunggu banyak pemilih dalam Pilbub Sarolangun nanti. Walaupun, bacaan politik kalangan terdidik telah menangkap “signal” arah dukungan HBA secara simbolistik. Namun penentuan posisi HBA secara personal dalam Pilbub ini juga tidaklah sederhana, karena beban psikologis baik kepada para kontestan maupun konstituen juga terasa berat. Mengingat semua pihak pernah “mengabdi” dan mengharap posisi pribadi HBA sebagai “master” dalam percaruan Pilbub nanti.

Sekarang tinggal bagaimana HBA menjaga komunikasi politik dengan bijak, arif dan cerdas. Ibarat mencabut rambut di tempayan tepung, rambutnya tidak putus, dan tepungnya tidak tertumpah. Tapi, sisi lain, sebagai nakhoda Parpol dan Gubernur, kedua status ini memiliki konsekuensi politik yang juga harus dipertibangkan oleh HBA. Apakah dukungan Partai Demokrat Sarolangun dengan terpampangnya foto tokoh Demokrat Jambi dan Nasional bersama pasangan Cek Endra-Pahrul, sebagai keputusan yang bersumbu dari konsekuensi politik? Jika begitu, maka seolah terjawab sudah, siapa yang berpeluang meneruskan program Emas dan berkesempatan besar menakhodai Saroalngun pasca HBA. Tentunya semua itu tanpa terlepas dari ikhtiyar dan taqdir. Wallhua’lam.

*Dosen Fak Syariah IAIN STS Jambi. Mahasiswa Ph.D UK Malaysia.


Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.