Ibnuharun


Ghirah Baru IAIN STS Jambi
Oktober 5, 2011, 2:32 pm
Filed under: Opini

Ghirah Baru IAIN STS Jambi

Hermanto Harun*

Seperti tak sepenuhnya percaya, ketika menyaksikan pelantikan rektor IAIN STS Jambi di Kantor Kemenag Jakarta. Senin, 3 Oktober 2011 sekitar pukul 10.00 WIB. Acara pembacaan sumpah jabatan yang dipimpin lansung oleh Menteri Agama Suryadarma Ali, berjalan dengan sukses dan penuh hidmat. Ketidak percayaan saya terhadap pelantikan rektor baru IAIN STS tersebut, sama sekali jauh dari perspektif mitologi, dalam arti menganggap bahwa peristiwa bersejarah bagi IAIN STS ini merupakan suatu keajaiban. Tapi cuma sedikit terkagetkan, mengingat, suasana gugat menggugat dalam Pilrektor jilid I dan II, masih berlangsung, sementara waktu pelantikan sangat begitu cepat dari waktu yang diperkirakan. Walaupun memaklumi, bahwa Kementrian Agama memiliki hak “veto” untuk menunjuk siapa diantara kandidat yang dilantik sesuai rekomendasi senat institut.

Peristiwa pelantikan, peralihan kekuasaan, pergantian kepemimpinan, peremajaan institusi atau apapun istilahnya, yang jelas, peralihan kekuasaan dan pergantian jabatan merupakan sunnatullah dalam realitas kehidupan manusia. Karena, lambat atau cepat, jabatan atau kekuasaan pasti akan berpisah dari pemegangnya. Namun, pelantikan Hadri Hasan sebagai rektor IAIN STS Jambi tidak hanya boleh dimaklumi dalam koridor “pertukaran” generasi kepimpinan IAIN STS Jambi semata. Akan tetapi, hemat penulis, pelantikan tersebut memiliki pesan yang lebih dari sekedar istilah rotasi kepemimpinan, mengingat institusi Islam Jambi ini telah begitu lama “tergadai” dalam ruang permainan dekadensi perilaku politik saat perebutan pucuk pemimpinannya.

Secara psikologis, perseteruan politik pasca Pilrektor jilid kedua ini masih terasa menyesak. Walau, dalam ruang-ruang publik akademis, kadang hal itu seolah tidak terjadi. Namun, walau selalu ditutupi, benturan psikologis itu seakan api dalam sekam, yang tidak terlihat baranya, namun tetap selalu kentara berasap. Jika begitu, maka benturan politik tadi menjadi bom waktu yang ending-nya perpecahan dan kusumat perselisihan. Padahal, semua itu jelas tidak elok bahkan bertentangan dengan nilai-nilai, bahkan norma keagamaan yang diajarkan di kampus biru tersebut.

Dari sinilah, pelantikan Hadri Hasan sebagai rektor IAIN STS Jambi seakan menemukan momentumnya. Momen yang penulis maksud adalah, kahadiran seorang Hadri Hasan menduduki pucuk pimpinan IAIN STS Jambi seperti mengembalikan kesadaran kampus yang beberapa waktu belakangan belum siuman. Pertarungan politik yang kurang cerdas dan tidak sehat dalam institusi Islam Jambi itu, menjadi kerikil dan noda serajah perjalanan kampus religi tersebut, sehingga ketidak-siuman akademik menjadi catatan-catatan yang menunggu untuk dikoreksi oleh nakhoda kampus IAIN STS yang baru.

Maka, walau agak terlambat, siuman para akademisi kampus IAIN STS dengan terselenggaranya pemilihan dan pelantikan rektor baru, Hadri Hasan, paling tidak, bisa menjadi ghirah dan semangat baru dalam menata kampus Islam Jambi itu, sehingga citra dan peran kampus harapan umat tersebut bisa pulih dan lebih bermakna di masa mendatang.

Tentu, peran Hadri Hasan sebagai rektor tidak akan mudah, apalagi simsalabim mengubah image tentang persepsi kisruh politik IAIN STS yang sempat menerpa lembaga ini beberapa waktu lalu. Namun, dengan minimnya ‘beban’ politik Hadri Hasan, dan dengan latar belakang organisasi keulamaannya, sangat diharapkan mampu mewujudkan cita-cita IAIN STS menuju impian besarnya, yaitu sebagai lembaga umat yang mengawal realisasi keagamaan dan sebagai institusi yang mencetak dan melahirkan ilmuan muslim.
Tugas keummatan yang begitu besar dan berat sekaligus menantang tersebut, jelas tidak mungkin mampu dipersonifikasikan hanya kepada seorang Hadri Hasan, mengingat kerja individual tidak begitu mudah mengubah wajah komunitas, apalagi merubah sebuah institusi besar sekelas IAIN. Dari itu, siuman akademik merupakan ponggah baru, bahwa tugas memulihkan image kampus Islam tersebut merupakan kewajiban semua civitas akademika dengan segala potensinya. Pemulihan secara kelembagaan ini sangat urgen, dan itu bisa tercapai apabila kesepahaman akan cita, visi dan misi kampus Islam ini dimengerti oleh semua komponen kampus.

Urgensitas kesepahaman dan pengertian akan tanggung jawab, terlebih oleh insan akademis IAIN STS, bukan semata persoalan kewajiban personal terhadapa institusi kelembagaan, namun lebih jah dari itu, gelar akademis di institusi keagamaan ini dalam fakta sosial akan menjadi neraca dan standar keberagamaan masyarakat awam. Dengan demikian, secara kelembagaan, pola keberagamaan akademisi IAIN akan menjadi referensi umat dalam realitas kehidupan nyata. Dalam bahasa lain, fungsi dan misi keulamaan akademisi IAIN secara otomatis melekat dengan sendirinya, terlepas apakah individunya mengakui atau tidak.

Maka untuk menjawab tantangan besar kampus biru tersebut dalam rangka merespon tantangan pengetuan dan modernisitas, baik secara kelembagaan maupun individual, tiada jalan lain kecuali, menderapkan langkah barisan, serentak bak satang, sealun bak dayung, dengan tanpa mengurangi budaya dan profesionalitas akademis serta sikap kritis konstruktif. Jika perspektif itu yang menjadi basisnya, maka kedepan, kampus titipan umat itu tidak lagi menjadikan paradigma pragmatisme politik sebagai “kiblat” dinamika akademisnya, namun lebih mengedepankan dinamika keilmuan dengan budaya pengetahuan.

Dengan dilantiknya Hadri Hasan sebagai nakhoda baru IAIN STS, tentunya semua pihak layak bertanya, kemanakah bahtera kampus Islam Jambi ini akan dibawa? mungkinkah institusi kebanggaan umat tersebut menjadi protype keberagamaan umat dalam dimensi apapun? Tentunya, pertanyaan tadi, tidak mungkin dibebankan kepada pihak lain di luar sistem civitas akademika kampus untuk menjawabnya. Yang lebih pantas dan lebih tahu jawabannya, tentu rektor terpilih dan civitas akademika IAIN STS itu sendiri.
Semua pertanyaan tadi bagian dari simpul kegelisahan umat yang sangat berharap akan kampus yang bercorak keagamaan Islam itu menjadi guru yang pantas diteladani dan ditiru. Bukan sebaliknya, menjadi kepingan cermin retak, yang tidak hanya membuat wajah keberagamaan umat semakin buram, namun juga dapat melukai simpul harapan raut muka mereka. Semoga tidak! Wallahu’alam

*Dosen IAIN STS Jambi. Sedang Mengikuti Diklat Penelitian Kesultanan Nusantara di PUSDIKLAT KEMENAG RI Kampus Ciputat.26-11 s/d 31 Okt 2011


Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.